Hari Gizi dan Makanan 2017

Direktur One Earth Integral Education Foundation dalam jumpa pers Karnaval Ayo Melek Gizi

Hari Gizi dan Makanan 2017
Mari Perbanyak Asupan Zat Mikro lewat Sayur dan Buah
Program Edukasi Nutrisi Sarihusada-One Earth

Wujud kepedulian dengan asupan nutrisi masyarakat Indonesia yang dibuktikan dengan hasil Survey Diet Total 2014, Program Edukasi Nutrisi Sarihusada – One Earth di Taman Pintar mensosialisasikan perbanyak makan buah dan sayur, di mana setengah dari piring makan kita setiap harinya harus terisi buah dan sayur serta menyampaikan nilai-nilai etika sejak dini kepada anak. Program dilakukan setiap hari Minggu di Wahana PAUD Timur dan Barat sebanyak dua sesi, mulai pukul 10.30 WIB.
Hasil Survey Diet Total (SDT) 2014 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, menunjukkan konsumsi buah dan sayur harian masyarakat sangat rendah. Rerata asupan buah masyarakat kita hanya 33,5 gram per hari dan sayuran hanya 57,1 gram per hari (Kementerian Kesehatan, 2016). Ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi buah dan sayur tersebut hanya seperempat dari ketentuan minimum WHO. Konsumsi Buah dan sayur Indonesia adalah yang paling rendah di antara negara ASEAN. Sebagai bagian masyarakat global, menyiapkan anak menjadi warga berkelas dunia tidak hanya terkait asupan gizi lengkap dan seimbang. Menguasai etiket/memiliki good manners merupakan kunci kesuksesan seorang anak (Reardon, Kate, 2010).
Tubuh kita membutuhkan zat mikro seperti dari buah dan sayur, sebagai sumber vitamin, mineral, serat dan antioxidants bagi tubuh. Penurunan konsumsi buah dan sayur berdampak pada kesehatan yang buruk dan peningkatan resiko terkena penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan kanker. Estimasi WHO menyebutkan di dunia, sebanyak 5.2 juta orang pada 2013 meninggal karena tidak cukup makan buah dan sayur. WHO menyarankan konsumsi sayur dan buah lebih dari 400 gram (5 porsi) per hari (WHO, 2016).
Kementerian Kesehatan melalui program CERDIK mengisyaratkan bahwa kesehatan bukan lagi melulu pada tataran fisik, namun juga keseimbangan emosi dan pikiran, lewat kegiatan mengolah stres. Indonesia menghadapi double burden, tidak hanya mengalami masalah kekurangan gizi, badan kurus dan stunting tetapi juga mengalami kelebihan berat badan. Deepak Chopra (2013) mengatakan pikiran adalah kunci untuk menurunkan berat badan, ketika pikiran terpuaskan, badan tidak terlalu mengidamkan makanan lagi. Menggunakan pendekatan pikiran dan badan akan bekerja jika kita menemukan kepuasan. Menjadi terpuaskan hanya lewat makanan saja tidak cukup. Kita harus memelihara badan dengan makanan yang menyehatkan; hati dengan keceriaan dan kasih sayang; pikiran dengan kebijaksanaan; dan jiwa dengan kesadaran diri. Krishna (2010) dalam bukunya tentang neuroscience dan spiritualitas menekankan hal yang sama, kebutuhan dasar harus dipenuhi secara cerdas dan berimbang dengan penuh kesadaran.
Stres terjadi ketika terjadi ketidakselarasan. Menerapkan etika dalam keseharian juga merupakan bagian dari terpenuhinya kepuasan secara berimbang. Salah satu etika yang bisa dipelajari anak sejak dini adalah saat di meja makan. Survey Kantor Berita ABC menyebutkan 73% etiket masyarakat Amerika lebih buruk dari 20-30 tahun yang lalu. Hal ini juga tampak di Indonesia. Program akan mengajarkan etiket/manners dasar sebagai upaya menjadi warga kelas dunia. Misalnya mengucapkan terima kasih ketika menerima kebaikan/pertolongan. Program akan memfokuskan pada tiga value utama. Program parenting: Pengendalian diri/disiplin diri, kemampuan untuk memilah dan kesadaran. Program anak: Pengendalian diri/disiplin diri, kemampuan untuk memilah dan kasih sayang.
Kesehatan mental/emosional menentukan kesehatan fisik kita. Jiwa yang sehat menentukan badan yang sehat, bukan sebaliknya. Kesehatan badan tidak menjamin kesehatan jiwa (Krishna,2010).

Link berita terkait:

https://www.facebook.com/Nutrisi.untuk.Bangsa/photos/a.1492058957489516.1073741868.145597055469053/1493193284042750/?type=3&theater

 

Share/Bookmark